MENGENAL BUDAYA ORANG JEPANG

あいさつ “Aisatsu” adalah budaya negara Jepang entah itu meminta maaf, berkenalan, bertamu di rumah orang, mengatakan permisi, bahkan sampe berbicara di telepon pun orang jepang sampe membungkuk sedikit (padahal orang yang berbicara dengannya tidak bisa melihat dia). Dengan kata lain pengucapan diiringi pembukkukan badan. Membungkuk (お辞儀, ojigi) adalah sebuah keharusan. Tradisi yang sudah diajarkan kepada anak-anak sejak balita.

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Sejak usia dini anak-anak di Jepang dilatih untuk mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Jepang terkenal dengan sistem “lifetime employment” sistem yang membuat iklim loyalitas perusahaan yang kuat. Ada banyak perusahaan yang mengungkapkan hal ini dengan ungkapan-ungkapan seperti “team spirit” atau “team work”, tapi pada dasarnya semua memiliki arti yang sama.

Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Dari 48 persen orang yang menggunakan jaringan rel publik, 22 persen menggunakan jaringan kereta bawah tanah yang tersedia di berbagai kota. 

Tentu saja sudah tidak asing lagi mendengar kalau orang Jepang memang terkenal dengan budaya antrinya. Mereka antri dalam berbagai hal, bahkan untuk ke toilet pun antri. Meskipun mereka sangat menghargai waktu, tapi tak ada yang menyerobot antrian meski terburu-buru, dan meski tidak ada garis, atau pembatas untuk meluruskan antrian, mereka tetap rapih mengantri. “  . . . . kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga puluhan tahun atau lebih untuk bisa san selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri”

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang yang sering jalan kaki ataupun naik sepeda. Kebiasaan ini sudah ditanamkan sejak dini, begitu anak memasuki umur 3 th mereka diwajibkan untuk belajar mengendarai sepeda da nada pula yang berumur 3 tahun harus sudah bisa bersepeda dan sering dia ajak untuk jalan kaki.

Tidak perlu ditanyakan lagi menyangkut soal waktu orang jepang sangat menghargai waktu, bagi mereka waktu adalah uang jika membuang waktu berarti dia telah membuang uang, bahkan kereta dan bus semua berjalan sesuai jam yang tertera, tak ada keterlambatan bahkan semenit pun. (maksimal keterlambatan 0,03 detik). Mengajarkan kedisiplinan dan pentingnya tepat waktu. Begitu menghargainya orang Jepang terhadap waktu, kalau anda bertanya suatu jarak atau lokasi sebuah tempat, biasanya mereka menjawab dengan patokan waktu.

Misalnya, 7 menit berjalan kaki dari stasiun atau 8 menit bersepeda dari kantor polisi. Kalau kita perhatikan, panjang waktu yang mereka tunjukkan juga sangat presisi. Coba bandingkan dengan di negara kita, biasanya apabila ditanya soal waktu, jawabannya adalah 5 menit, 10 menit atau pembulatan waktu pada kelipatan 5 atau yang mudah dihitung. Waktu yang ditunjukkan belum tentu pas, tercermin dengan kata “kira-kira” pada awal kalimatnya.

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok.

Kota-kota di Jepang sangat bersih, karena kedisiplinan warganya dalam mengelola sampah. Tong sampah di Jepang ada banyak, dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Tidak cuma organic dan non organic, tapi ada sampah khusus botol, kemasan karton susu atau jus, sampah dapur, plastic, kertas, dan kaleng. Buang sampah harus dipilah-pilah dulu, dan warganya dengan tertib membuang dan memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Naik eskalator di Jepang, sudah budaya bahwa bagian kanan digunakan untuk orang yang terburu-buru, hal ini akan berbeda dengan keadaan di daerah Osaka di bagian yang kiri yang di gunakan untuk yan buru-buru. Jadi kalau naik eskalator dan tidak lagi terburu-buru harus di bagian kiri (luar Osaka), kalau berdua juga jangan sebelahan, jadi ga bisa gandengan. (Jomblo Menang yes haha )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.